Selasa, 02 Februari 2016

DAWUHE MBAH NUN

 KEPENGASUHAN ANAK


Malam itu (19/1) Cak Nun dan KiaiKanjeng memenuhi undangan masyarakat Jagalan kota Yogyakarta. Tiga tahun lamanya mereka menanti kedatangan Cak Nun dan KiaiKanjeng di kampung mereka yang sangat padat di tengah kota Yogyakarta ini.
Karena padatnya perkampungan Jagalan ini, panggung acara diletakkan di jalan di depan sebuah hotel. Selain di halaman muka hotel atau depan panggung, jamaah mengambil tempat di kanan-kiri panggung alias di sepanjang jalan.

Cak Nun dan rombongan harus berjalan melalui gang-gang setapak dan sempit di sela-sela rumah warga. Hal itu mengingatkan pada lirik salah satu lagu yang dibawakan Cak Nun pada album Kado Muhammad yang terkutip di awal catatan ini. Seakan memang menggambarkan bahwa hampir semua waktu Cak Nun habis untuk menyusuri, masuk ke lekuk-lekuk, dan menyapa orang-orang di dusun, di kampung-kampung, di gang-gang tempat masyarakat bawah berada. Entah sudah berapa ribu kali. KiaiKanjeng juga sudah tak terhitung menemani Cak Nun menemui, menyapa, dan melayani masyarakat di berbagai lapisan bawah masyarakat Indonesia.

Sinau bareng kali ini bertemakan Kepengasuhan Anak. Cak Nun menyapa terlebih dahulu para jamaah. Menjajagi rasa mereka, sembari menjalinkan kedekatan di antara semua yang hadir. Jalan yang ditempuh Cak Nun adalah membesarkan hati, meyakinkan mereka, bahwa “Nggak usah tergantung atau terpaku pada simbol: santri atau abangan. Santri yang baik hatinya banyak. Abangan yang santri juga banyak. Jadi sekarang, jangan berpedoman pada simbol, tapi pada akhlaknya bagaimana hidup bebrayannya di dalam masyarakat. Santri bukan karena kupluk-nya, tapi bagaimana bebrayan-nya.”

Karena tema malam itu adalah kepengasuhan anak, Cak Nun pun minta anak-anak untuk naik ke panggung. Sudah sangat sering di berbagai Maiyahan, setiap kali ada anak-anak yang datang atau sebelumnya tampil, akan diajak menjadi bagian dari muatan Maiyahan, seperti belum lama ini Maiyahan di Jambangan di Surabaya. Istimewanya anak-anak Jagalan ini, belum sampai satu menit diminta Cak Nun, anak-anak di sini langsung gemruduk naik ke panggung penuh semangat dan percaya diri.

Ditanya nama dan nama kedua orangtuanya, langsung menjawab dengan mantap. Mereka seperti tak ada jarak, bahwa ini panggung dan disaksikan banyak orang, mereka seperti dengan ayahnya sendiri terhadap Cak Nun. Dan ketika diajak shalawatan, salah satu anak putri yang masih sangat kecil, lima tahun usianya, dengan berada di pelukan Cak Nun, menembang pujian Shalawat Nariyah. Ajib, suaranya terukur dalam membawakan Shalawat Nariyah ini.

Cak Nun mengingatkan dua hal. Pertama, shalat dan shalawat itu sebenarnya satu rumpun kata dan satu makna. Esensinya adalah cinta. Salah satu bentuk cinta atau shalat manusia kepada Allah ditentukan oleh-Nya dalam bentuk shalat lima waktu itu. Kemudian juga ada esensi cinta yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk budaya, termasuk cinta kita kepada Nabi Muhammad. Kedua, mengenai apakah Allah masih bershalawat atau tidak, Cak Nun mengingatkan bahwa Allah tidak punya “masih”, “belum” atau “sudah”. Itu adalah waktu linier menurut mata manusia yang tak berlaku untuk Allah. Selain itu, yang tak kalah mendasarnya, hendaknya kita tidak memakai parameter fisik-materialistik dalam memandang apa saja, termasuk dalam memahami Rasulullah.

Muatan yang istimewa dari Cak Nun sebenarnya adalah kedalaman ilmunya dalam mengenalkan jamaah pada kedalaman-kedalaman dalam merasakan gerak hidup. Seperti dinyatakan tadi, “Hidup kita ini tak bisa terduga, kadang memanjang, kadang memendek. Tak usah mengkalkulasi Allah, jangan seperti bermain gobak-sodor. Allah memang memberi potensi baik dan buruk, tapi inisiatif baik-buruknya Anda apa pada Anda. Jadi keputusan Anda yang dilihat. Allah memberikan pada kita untuk mentakdirkan atas diri Anda sekian persen. Mikir yang baik-baik saja. Energimu gunakanlah untuk menambah kebaikan.” Itulah beberapa kunci mendasar yang dipesankan Cak Nun merespons pertanyaan beberapa audiens. [Baca selengkapnya — http://goo.gl/K7dhix]
 
 
 
 
 
 
Ternyata Allah memilihkan Shalawat Nariyah untuk kita semua melalui anak…
caknun.com|Oleh CakNun.com

Gerbang wabal

 GERBANG WABAL Part 2

 

“Allah yang Maha Besar yang mengetahui isi hati manusia, Allah yang Maha Besar yang mengetahui apakah perjuangan yang telah dirintis keluarga Pak Muhammad dan Ibunda Halimah dan perjuangan Maiyah perlu diketahui dan dicatat ataukah tidak, kita hanya bisa mengeluh kepada Allah…. Malam ini kita memasrahkan kepada Allah hal-hal yang apabila kita melakukannya malah menjadi madhorot. Kita telah sampai pada zaman di mana arah angin tidak menentu, gelombang silang sengkarut. Kita sampai pada zaman di mana orang yang punya niat suci malah terjengkang. Zaman di mana pokok-pokok problemanya hanya bisa diatasi oleh keadilan dan ridho Allah. Kita tak punya pamrih perjuangan itu dicatat siapapun, tetapi kalau Jamaah Maiyah, keluarga anda, dan saya disakiti, waw-llahi itu tidak akan melahirkan dendam kepada yang menyakiti, tetapi Allah yang memiliki keadilan-Nya,” tegas Cak Nun.
Kemudian jamaah diajak untuk mengingat-ingat apa yang mereka lakukan, seberapa banyak itu semua mendekatkan pada atau menjauhkan dari Ridho-Nya. Mereka diajak bermuhasabah, mulai dari skala diri, keluarga, umat Islam, bangsa Indonesia, dan umat manusia. Ditegaskan kepada jamaah, bahwa Maiyah yang dititipkan oleh Allah kepada mereka itu ibarat benih-benih, yang apabila ditanam di Indonesia tak akan cukup tanah Indonesia ini. Karena Maiyah lebih besar dari negeri ini. Sebab Maiyah adalah revolusi berpikir, revolusi pemahaman, dengan dimensi-dimensinya yang seperti hujan deras. Revolusi tata nilai yang mampu memberikan cermin terhadap peradaban-peradabanyang ada. “Baik maiyah itu dalam bentuk jernih di dalam diri Anda, maupun yang dipotong-potong di media dan dimanipulasi, mulai 2016 Jamaah Maiyah jangan pernah coba-coba melakukan kejahatan,” pesan Cak Nun.
Seraya mengingatkan bahwa yang Maiyah mohonkan kepada Allah adalah keadilan-Nya, Cak mengatakan, “Kita tidak mengatakan hukuman-Nya, sebab itu hak mutlak Allah.” Lalu jamaah pun didoakan agar Allah berkenan menjadi mata yang menjadi penglihatan mereka, menjadi kesucian yang mendiami hati mereka, dan menjadi telinga yang menjadi pendengaran mereka.
Serempak semua jamaah melantunkan surat Al-Fatihah yang dituntunkan Cak Nun, dan mengawali do’a Wabal dilantunkan. Musik KiaiKanjeng pun mengiringinya dengan tekanan nada dan irama yang kuat. Jamaah perlahan-perlahan memasuki kekhusyukan yang lebih dalam lagi.
Doa wabal mengandung moralitas yang sangat serius. Walaupun berisi permohonan akan keadilan-Nya, jangan dikira keadilan itu hanya untuk penganiaya, penipu daya, dan pemanipulasi (pihak di luar yang membaca doa Wabal), melainkan juga bagi dirinya. Tidak boleh meminta keadilan yang hanya berlaku untuk orang lain. Dia pun harus siap. Itulah keadilan. Itulah sebabnya Cak Nun mengatakan siapapun saja. Modal jamaah Maiyah adalah keteraniayaan, ketertimpaan oleh tipu daya, dan keterasingan.

Selama hampir satu jam, jamaah diajak melantukan wirid Wabal. Berbagai nada dan irama, semua melantunkan Ya Dzal Wabal Ya Dzal Wabal. Banyak wajah menunduk khusyuk. Tak hanya yang berada di depan panggung, tapi juga yang berada di belakang atau di sisi timur Sentono Arum. Sebagian lain duduk di selasar pondok Padhangmbulan