Selasa, 02 Februari 2016

DAWUHE MBAH NUN

 KEPENGASUHAN ANAK


Malam itu (19/1) Cak Nun dan KiaiKanjeng memenuhi undangan masyarakat Jagalan kota Yogyakarta. Tiga tahun lamanya mereka menanti kedatangan Cak Nun dan KiaiKanjeng di kampung mereka yang sangat padat di tengah kota Yogyakarta ini.
Karena padatnya perkampungan Jagalan ini, panggung acara diletakkan di jalan di depan sebuah hotel. Selain di halaman muka hotel atau depan panggung, jamaah mengambil tempat di kanan-kiri panggung alias di sepanjang jalan.

Cak Nun dan rombongan harus berjalan melalui gang-gang setapak dan sempit di sela-sela rumah warga. Hal itu mengingatkan pada lirik salah satu lagu yang dibawakan Cak Nun pada album Kado Muhammad yang terkutip di awal catatan ini. Seakan memang menggambarkan bahwa hampir semua waktu Cak Nun habis untuk menyusuri, masuk ke lekuk-lekuk, dan menyapa orang-orang di dusun, di kampung-kampung, di gang-gang tempat masyarakat bawah berada. Entah sudah berapa ribu kali. KiaiKanjeng juga sudah tak terhitung menemani Cak Nun menemui, menyapa, dan melayani masyarakat di berbagai lapisan bawah masyarakat Indonesia.

Sinau bareng kali ini bertemakan Kepengasuhan Anak. Cak Nun menyapa terlebih dahulu para jamaah. Menjajagi rasa mereka, sembari menjalinkan kedekatan di antara semua yang hadir. Jalan yang ditempuh Cak Nun adalah membesarkan hati, meyakinkan mereka, bahwa “Nggak usah tergantung atau terpaku pada simbol: santri atau abangan. Santri yang baik hatinya banyak. Abangan yang santri juga banyak. Jadi sekarang, jangan berpedoman pada simbol, tapi pada akhlaknya bagaimana hidup bebrayannya di dalam masyarakat. Santri bukan karena kupluk-nya, tapi bagaimana bebrayan-nya.”

Karena tema malam itu adalah kepengasuhan anak, Cak Nun pun minta anak-anak untuk naik ke panggung. Sudah sangat sering di berbagai Maiyahan, setiap kali ada anak-anak yang datang atau sebelumnya tampil, akan diajak menjadi bagian dari muatan Maiyahan, seperti belum lama ini Maiyahan di Jambangan di Surabaya. Istimewanya anak-anak Jagalan ini, belum sampai satu menit diminta Cak Nun, anak-anak di sini langsung gemruduk naik ke panggung penuh semangat dan percaya diri.

Ditanya nama dan nama kedua orangtuanya, langsung menjawab dengan mantap. Mereka seperti tak ada jarak, bahwa ini panggung dan disaksikan banyak orang, mereka seperti dengan ayahnya sendiri terhadap Cak Nun. Dan ketika diajak shalawatan, salah satu anak putri yang masih sangat kecil, lima tahun usianya, dengan berada di pelukan Cak Nun, menembang pujian Shalawat Nariyah. Ajib, suaranya terukur dalam membawakan Shalawat Nariyah ini.

Cak Nun mengingatkan dua hal. Pertama, shalat dan shalawat itu sebenarnya satu rumpun kata dan satu makna. Esensinya adalah cinta. Salah satu bentuk cinta atau shalat manusia kepada Allah ditentukan oleh-Nya dalam bentuk shalat lima waktu itu. Kemudian juga ada esensi cinta yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk budaya, termasuk cinta kita kepada Nabi Muhammad. Kedua, mengenai apakah Allah masih bershalawat atau tidak, Cak Nun mengingatkan bahwa Allah tidak punya “masih”, “belum” atau “sudah”. Itu adalah waktu linier menurut mata manusia yang tak berlaku untuk Allah. Selain itu, yang tak kalah mendasarnya, hendaknya kita tidak memakai parameter fisik-materialistik dalam memandang apa saja, termasuk dalam memahami Rasulullah.

Muatan yang istimewa dari Cak Nun sebenarnya adalah kedalaman ilmunya dalam mengenalkan jamaah pada kedalaman-kedalaman dalam merasakan gerak hidup. Seperti dinyatakan tadi, “Hidup kita ini tak bisa terduga, kadang memanjang, kadang memendek. Tak usah mengkalkulasi Allah, jangan seperti bermain gobak-sodor. Allah memang memberi potensi baik dan buruk, tapi inisiatif baik-buruknya Anda apa pada Anda. Jadi keputusan Anda yang dilihat. Allah memberikan pada kita untuk mentakdirkan atas diri Anda sekian persen. Mikir yang baik-baik saja. Energimu gunakanlah untuk menambah kebaikan.” Itulah beberapa kunci mendasar yang dipesankan Cak Nun merespons pertanyaan beberapa audiens. [Baca selengkapnya — http://goo.gl/K7dhix]
 
 
 
 
 
 
Ternyata Allah memilihkan Shalawat Nariyah untuk kita semua melalui anak…
caknun.com|Oleh CakNun.com

Gerbang wabal

 GERBANG WABAL Part 2

 

“Allah yang Maha Besar yang mengetahui isi hati manusia, Allah yang Maha Besar yang mengetahui apakah perjuangan yang telah dirintis keluarga Pak Muhammad dan Ibunda Halimah dan perjuangan Maiyah perlu diketahui dan dicatat ataukah tidak, kita hanya bisa mengeluh kepada Allah…. Malam ini kita memasrahkan kepada Allah hal-hal yang apabila kita melakukannya malah menjadi madhorot. Kita telah sampai pada zaman di mana arah angin tidak menentu, gelombang silang sengkarut. Kita sampai pada zaman di mana orang yang punya niat suci malah terjengkang. Zaman di mana pokok-pokok problemanya hanya bisa diatasi oleh keadilan dan ridho Allah. Kita tak punya pamrih perjuangan itu dicatat siapapun, tetapi kalau Jamaah Maiyah, keluarga anda, dan saya disakiti, waw-llahi itu tidak akan melahirkan dendam kepada yang menyakiti, tetapi Allah yang memiliki keadilan-Nya,” tegas Cak Nun.
Kemudian jamaah diajak untuk mengingat-ingat apa yang mereka lakukan, seberapa banyak itu semua mendekatkan pada atau menjauhkan dari Ridho-Nya. Mereka diajak bermuhasabah, mulai dari skala diri, keluarga, umat Islam, bangsa Indonesia, dan umat manusia. Ditegaskan kepada jamaah, bahwa Maiyah yang dititipkan oleh Allah kepada mereka itu ibarat benih-benih, yang apabila ditanam di Indonesia tak akan cukup tanah Indonesia ini. Karena Maiyah lebih besar dari negeri ini. Sebab Maiyah adalah revolusi berpikir, revolusi pemahaman, dengan dimensi-dimensinya yang seperti hujan deras. Revolusi tata nilai yang mampu memberikan cermin terhadap peradaban-peradabanyang ada. “Baik maiyah itu dalam bentuk jernih di dalam diri Anda, maupun yang dipotong-potong di media dan dimanipulasi, mulai 2016 Jamaah Maiyah jangan pernah coba-coba melakukan kejahatan,” pesan Cak Nun.
Seraya mengingatkan bahwa yang Maiyah mohonkan kepada Allah adalah keadilan-Nya, Cak mengatakan, “Kita tidak mengatakan hukuman-Nya, sebab itu hak mutlak Allah.” Lalu jamaah pun didoakan agar Allah berkenan menjadi mata yang menjadi penglihatan mereka, menjadi kesucian yang mendiami hati mereka, dan menjadi telinga yang menjadi pendengaran mereka.
Serempak semua jamaah melantunkan surat Al-Fatihah yang dituntunkan Cak Nun, dan mengawali do’a Wabal dilantunkan. Musik KiaiKanjeng pun mengiringinya dengan tekanan nada dan irama yang kuat. Jamaah perlahan-perlahan memasuki kekhusyukan yang lebih dalam lagi.
Doa wabal mengandung moralitas yang sangat serius. Walaupun berisi permohonan akan keadilan-Nya, jangan dikira keadilan itu hanya untuk penganiaya, penipu daya, dan pemanipulasi (pihak di luar yang membaca doa Wabal), melainkan juga bagi dirinya. Tidak boleh meminta keadilan yang hanya berlaku untuk orang lain. Dia pun harus siap. Itulah keadilan. Itulah sebabnya Cak Nun mengatakan siapapun saja. Modal jamaah Maiyah adalah keteraniayaan, ketertimpaan oleh tipu daya, dan keterasingan.

Selama hampir satu jam, jamaah diajak melantukan wirid Wabal. Berbagai nada dan irama, semua melantunkan Ya Dzal Wabal Ya Dzal Wabal. Banyak wajah menunduk khusyuk. Tak hanya yang berada di depan panggung, tapi juga yang berada di belakang atau di sisi timur Sentono Arum. Sebagian lain duduk di selasar pondok Padhangmbulan

Minggu, 31 Januari 2016

GERBANG WABAL



MENGAWALI TAHUN 2016, Kenduri Cinta mengangkat tema Gerbang Wabal, sebuah istilah tema yang khusus diberikan oleh Cak Nun. Istilah-istilah terkait tema, seperti wabal, tahlukah dan qiyamah. Jika dari asal katanya wabal bisa dikatakan sebagai puncak penghancuran dari segala penghancuran. Jika musibah dan azab klasifikasinya masih bisa teridentifikasi, lain halnya dengan wabal. Dalam sebuah diskusi, Syeikh Nursamad Kamba pernah menjelaskan, hanya Allah yang tahu seperti apa penggambaran wabal. Wabal merupakan proses yang —bisa dikatakan— lebih kejam dari tahlukah. Sebagai pengingat, tahun 2013, Maiyah melakukan proses awal Tahlukah. Cak Nun, Cak Fuad, dan Syeikh Nursamad Kamba menyusun wirid Tahlukah yang kemudian pada saat itu prosesinya dilaksanakan secara kontinyu bergantian oleh penggiat di simpul-simpul Maiyah. Tahlukah adalah proses penghancuran dan kehancuran, berasal dari kata halaka.
Cak Nun switching menuju suasana yang lebih spiritual, mengajak jamaah membaca Al-Fatihah bersama, dan membabar menuju upacara pembacaan Wirid Wabal, “Dari hidung anda udara keluar masuk, yang muatannya ditentukan oleh kandungan hati, pikiran dan kedalaman uluhiyah jiwa anda. Sehingga, apapun yang ada di sekitar kita (malam ini) akan terkontaminasi secara baik oleh aura dari dalam jiwa anda. Saya minta waktu, mungkin sampai satu jam, untuk berupacara yang kita sebut sebagai Gerbang Wabal. Memohon kepada Allah, menyerahkan kepada Allah, mentawakalkan kepada Allah. Siapa saja yang berbuat kezaliman dalam arti individu, kolektif, sistemik atau struktural, yang tingkat komplikasinya berada jauh diluar ilmu dan kemampuan manusia, kita tawakalkan kepada Allah, agar supaya ada keselamatan masa depan bagi anak cucu kita mulai tahun 2016 ini. Allah akan meningkatkan pembalasannya kepada orang-orang yang zalim kepada sesama manusia.”
Cak Nun mengkondisikan posisi tubuh agar lebih fokus, meniadakan selain Allah dan Rasulullah, memfokuskan pada harapan-harapan dan proses perjalanan kehidupan yang dilalui, “Allah yang Ahad tidak menciptakan sesuatu yang tidak Ahad. Maka jangan mau diseragamkan. Dirimu unik, dirimu itu tunggal. Allah itu tunggal maka Dia menciptakan segala sesuatu tunggal, tidak ada duanya. Temukan ketunggalanmu, (temukan) apa yang membuatmu bahagia, apa yang membuatmu cemas, apa yang membuatmu sedih, menyangkut dirimu, keluargamu, masyarakatmu, bangsamu atau umat manusia di seluruh dunia. Sadari dan nikmatilah dalam dirimu. Kemudian (temukan juga) apa yang kira-kira masih berlubang, harus didandani, diatasi, dikasi solusi dan seterusnya. Anda daftari dalam kesadaran dan ingatan, selama satu jam kedepan itu semua anda lantunkan kepada Allah. Tidak perlu disebut satu persatu, cukup diwakili dengan kata: Yaa Dzal Wabal.”
Selama kurang lebih satu jam, jamaah Kenduri Cinta khusyuk melantunkan Ru’us Tahlukah, bergiliran mengiringi Fahmi, Ibrahim, Tri dan Mas Islamiyanto KiaiKanjeng secara terstruktur membaca doa Tahlukah.
Syeikh Kamba mengawali bagaimana Cak Nun menggubah Syair Shohibu Baitiy dan meminta Syeikh Kamba untuk ikut mengkoreksi syair tersebut. Syeikh Kamba —memiliki latar belakang ilmu tasawuf— menjelaskan bahwa salah satu ciri sebuah tarekat adalah lahirnya wirid-wirid tertentu yang tentu tidak sembarangan dalam proses penyusunannya, Maiyah juga merupakan salah satu tarekat. Syeikh Kamba mencontohkan bagaimana Imam Abu Hasan Zazli yang menyusun beberapa kalimat-kalimat yang kemudian dilantunkan dengan intonasi nada yang teratur, yang kemudian menjadi kesatuan yang harmonis. Hal serupa dilakukan Cak Nun di Maiyah.
“Yang saya pahami, Maiyah bukan pelembagaan institusionalisasi agama. Bukan. Tetapi yang dilakukan Maiyah adalah berbagi ilmu pengetahuan, saling menyayangi satu sama lain, saling mengasihi dalam balutan cinta segitiga; Allah-Rasulullah-manusia. Karena itu, dalam Maiyah setiap orang memiliki independensi dalam memahami ilmu. Hal itulah yang dibangun oleh Cak Nun di Maiyah,” Syeikh Kamba menuturkan.
“Jangan hanya mengenal Rasulullah melalui Iqra‘ dan wahyu-wahyu yang diturunkan Allah kepada beliau yang kemudian menjadi Alquran. Anda juga harus memahami penderitaan beliau jauh sebelum itu (sebelum menjadi Rasulullah). Kalau anda tidak memahami dan merasakan penderitaan itu, mendalami itu, maka jarak jangkauan kuda-kuda ilmu anda tidak tinggi,” Cak Nun melanjutkan dengan memberi penjelasan tentang pentingnya seorang santri mempelajari perjalanan hidup kyainya, sehingga ia tidak akan kehilangan jarak antara ilmu yang ia dapatkan dengan sosok kyai yang dijadikannya sebagai guru.
“Ini (Kenduri Cinta) pesantren bukan? Ini universitas atau bukan? Boleh nggak disini (di Kenduri Cinta) melanggar kode etik keilmuan? Boleh nggak disini anda berlaku tidak logis? Nggak boleh, kan?” Cak Nun menambahkan. Di Kenduri Cinta atau di forum-forum maiyahan lainnya tidak memungkinkan ada orang yang memiliki ambisi duniawi tertentu, berbicara diatas panggung kemudian jamaah hanya diam saja. Ketidakjujuran tidak akan berlaku di Maiyah. “Ini (Kenduri Cinta) bukan hanya pesantren. Ini bukan hanya universitas. Ini wilayah rububiyah,” tegas Cak Nun.
Rububiyah adalah wilayah kepengasuhan Allah yang didalamnya terdapat pendidikan, pengajaran, kasih sayang dan sebagainya. Sedangkan tarbiyah yang kita kenal di wilayah akademis sebenarnya bermakna terlalu sempit, tarbiyah memiliki cakupan lebih luas dari yang dipahami dunia akademik sekarang. Tarbiyah berasal dari kata robba-yurobbi-robbi, yang berafiliasi dengan kata robbun. Istilah tarbiyah mengalami penyempitan makna merupakan satu contoh dari sekian banyak hal yang sudah terjadi di dunia akademik pada umumnya. Segala sesuatu yang maknanya luas menjadi sempit kemudian diinstitusikan, sehingga terjadilah pemetaan-pemetaan yang mengkotak-kotakkan wilayah dan pada akhirnya ada pihak yang seharusnya ada di wilayah tersebut menjadi pihak yang tidak dianggap di wilayah itu karena ia tidak mengikuti aturan main yang berlaku.
Bagi dunia modern Maiyah tidak akan dianggap sebagai sebuah universitas karena tidak mengikuti aturan main sistem dunia pendidikan, meskipun yang dilakukan di Maiyah pada hakikatnya adalah proses pendidikan dan pembelajaran, hanya karena di Maiyah tidak ada sistem pendaftaran peserta didik baru, tidak ada sistem SKS, tidak ada sistem ujian, tidak ada ijazah dan lain sebagainya.
“Maiyah mengajak anda untuk jangan menyangga semua hal di Indonesia. Yang disebut dengan nasionalismemu adalah melakukan apa yang mampu kamu jangkau. Kalau yang mampu kamu jangkau adalah kamu sama anak-istrimu, ya sudah, itulah nasionalismemu, yang penting kamu menjadi manusia sebaik-baiknya dalam skala kecil nasionalisme hidupmu itu,” Cak Nun memberikan simulasi-simulasi sederhana dalam mewujudkan nasionalisme meskipun dalam skala kecil, karena yang paling penting dalam mewujudkan nasionalisme adalah menjalankan kemanusiaan dan fungsi kekhalifahan dengan sebaik-baiknya.
“Temukan skala nasionalismemu masing-masing. Kalau bisanya skala keluarga, ya keluarga. Nasionalisme tidak harus skalanya NKRI, karena kalau yang skala kecil ini beres, sudah pasti NKRI juga akan beres. Lha kalau semua ikut memikirkan NKRI, gunane opo kene mbayar pemerintah?” tanya Cak Nun.
Gerakan Maiyah yang semakin tumbuh meluas juga disoroti Cak Nun sebagai salah satu wujud nasionalisme. Nilai-nilai Maiyah yang tersebar sedemikian rupa bahkan hingga ke seluruh penjuru dunia, menjadi sebuah bibit yang kelak akan melahirkan generasi-generasi baru. Penyebaran nilai-nilai Maiyah pun hingga hari ini sangat beragam bentuknya, ada yang selalu datang setiap maiyahan rutin bulanan, ada yang datang kemudian berdiam di pojokan, atau bertanya kepada teman dan tetangganya yang datang ke maiyahan. Nilai-nilai Maiyah yang sederhana banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan masih banyak lagi jenis penyebaran nilai-nilai Maiyah yang terjadi saat ini. [Baca selengkapnya — http://kenduri.in/1KiOD0j]
Allah yang Ahad tidak menciptakan sesuatu yang tidak Ahad. Maka jangan mau diseragamkan. Dirimu unik, dirimu itu tunggal. Allah itu tunggal maka Dia…
kenduricinta.com

Sabtu, 30 Januari 2016

 ILMU ORANG TUA


Ilmu orang tua adalah pengetahuan akal dan kesadaran batin bahwa ia akan mati, dan itu bisa berlaku tidak 30 tahun yang akan datang, melainkan bisa juga besok pagi-pagi menjelang seseorang masuk kantor. Orang tua yang berpikir efisien tidak menghabiskan tenaga dan waktunya untuk kesementaran, melainkan untuk keabadian. Tidak menumpahkan profesionalisme untuk menggapai sesuatu yang toh tidak akan menyertainya selama-lamanya.

 

Ilmu orang tua adalah kesanggupan memilih satu dua yang abadi di antara seribu dua ribu yang temporer. Memilih satu dua yang sejati di tengah seribu dua ribu hal-hal, barang-barang, pekerjaan-pekerjaan, target-target yang palsu. Manusia yang paling profesional adalah yang memiliki akar pengetahuan dan daya terapan untuk bersegera menggunakan ilmu orang tua tanpa menunggu usianya menjadi tua.

 

Manusia yang paling cerdas dan peka adalah yang mengerti bahwa segala sesuatu dalam kehidupannya harus diperbaiki sekarang juga, tidak besok atau lusa, karena bisa keburu mati. Bahwa apapun saja harus segera di-husnul-khatimah-i dan menghindarkan diri dari kemubaziran-kemubaziran mengurusi hal-hal yang semu, palsu dan temporer.

 

Bahwa hutang harus segera dibayar. Bahwa kesalahan harus segera dihapuskan dengan meminta maaf kepada sesama manusia yang disalahi dan memohon ampun kepada Tuhan.

Bahwa omset ekonomi berapapun tidak menolong seseorang di garis kematiannya. Bahwa jabatan setinggi apapun tidak menambahi keberuntungan apapun di hadapan mautnya. Bahwa kejayaan, kemegahan dan kegagahan macam apapun tidak akan sanggup mengurusi nasibnya di depan sakaratul maut, yang akan muncul mendadak dan tiba-tiba.

 

Kamis, 28 Januari 2016

KUMPULAN NASIHAT SIMBAH EMHA AINUN NADJIB



 

Anak-anak muda tak bisa hanya menggantungkan diri akan jadi pegawai negeri, pembengkakan populasi penduduk akan makin berbanding terbalik dengan penyediaan lapangan kerja, jadi yang akan tegak hidupnya adalah orang-orang yang bermental wiraswasta, yang tidak priyayi, yang ulet dan bersedia bekerja keras (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Anda tak bisa menghakimi ekspresi seseorang hanya dengan melihat bunyi kata-katanya, melainkan Anda harus perhatikan nadanya, nuansanya, letak masalahnya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Aneh : hukum negara bertabrakan dengan hak dasar kemanusiaan, dan keduanya telah tiba pada kondisi purik (saling membenci) yang susah disembuhkan. Tetapi, jalan terang tetap terlihat, setidak-tidaknya di cakrawala pandangan setiap orang yang tak mengenal putus asa



Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah? Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian manusia sehingga ia makin sanggup memahami orang lain? (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Bukan agama kalau turun ke bumi hanya untuk pandai memerintah dan melarang. Sebelum Adam dilarang makan buah khuldi, dia diberi pelajaran terlebih dahulu mengenai “nama benda-benda”, mengenai segala yang mesti diketahuinya dalam kehidupan (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Bukanlah hidup kalau sekadar untuk mencari makan, bukankah sambil bekerja seseorang bisa merenungkan suatu hal, bisa berzikir dengan ucapan yang sesuai dengan tahap penghayatan atau kebutuhan hidupnya, bisa mengamati macam-macam manusia, bisa belajar kepada sebegitu banyak peristiwa… Bisa menemukan hikmah-hikmah, pelajaran dan kearifan yang membuat hidupnya semakin maju dan baik (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Dalam pengadilan di Indonesia, kadang kita harus memilih alternatif yang terbaik di antara yang terkutuk, dengan menyisakan sedikit harapan bahwa hati nurani manusia tidak semuanya terdiri atas buku (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Demokrasi itu penuh ironi dan ranjau kalau manusia tak menguasai manajemen untuk menggunakannya, demokrasi hanya bisa menjawab beberapa problem hidup, tapi problem yang lain membutuhkan nilai yang lebih tinggi daripada demokrasi (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Dunia ini masih dipimpin oleh orang yang lebih memilih kenyang meskipun dijadikan budak daripada lapar tapi bertahan harga dirinya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



hakikat hidup bukanlah apa yang kita ketahui, bukan buku-buku yang kita baca atau kalimat-kalimat yang kita pidatokan, melainkan apa yang kita kerjakan, apa yang paling mengakar di hati, jiwa dan inti kehidupan kita (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Hidup ini sangat luas dan dimensi-dimensi persoalannya tak terhingga, untuk itu diperlukan bukan sekadar wawasan yang luas dan pengetahuan yang terus dicari melainkan juga kearifan dan sikap luhur yang konsisten dari hari ke hari (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Jiwanya seniman itu bagaikan ruang kosong, tak ada lemari atau kotak-kotak yang bisa dipakai untuk menyembunyikan sesuatu, segalanya tampak jelas dan jujur di mata (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Kalau kita jadi negara industri tidak berarti bahwa segalanya akan beres, tak berarti kita akan terbebas dari kemiskinan, kebodohan atau kekejaman kekuasaan. Industri hanyalah sebuah cara di antara kemungkinan cara-cara lain yang dianggap bisa membantu menyejahterakan masyarakat



Kalau para mahasiswa bercita-cita hendak menjadi pemimpin bangsa, sejak sekarang harus berlatih menampung bermacam-macam gejala manusia, di dalam pergaulan mereka tidak boleh memakai kerangka “menang-kalah” apalagi memakai interes egonya belaka, melainkan mempertimbangkan kepentingan bersama, dan untuk itu diperlukan kesabaran dan kearifan terhadap berbagai kemungkinan yang muncul dari “rakyat” mereka, tidak boleh gemedhĂ© (merasa paling pintar, sombong) (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Kalau seseorang bersikap kreatif untuk menemukan apa saja hal baik yang bisa dikerjakan dalam hidup ini, jam-jamnya tidak akan sempat ia gunakan untuk sedih atau meratap, sebab sudah habis untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



kalau seseorang menjadi pemimpin, ia tak sekadar memimpin masyarakat manusia, tapi juga memimpin masyarakat makhluk yang luas, ia memimpin hak-hak binatang, hutan, lautan, barang tambang …. di situlah antara lain terletak kesalahan ideologi pembangunan modern yang merusak alam, bahkan merusak manusia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Kata ahli pedang, ilmu pedang tertinggi adalah kalau sudah bisa membelah kapas yang melayang-layang tanpa mengubah arah gerak kapas itu. Aneh, ujian tertinggi bagi keahlian pedang bukanlah baja atau batu karang melainkan kapas. Kekerasan yang telah mencapai puncaknya berubah menjadi kelembutan, kelembutan tak bisa dikalahkan oleh kekerasan (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Kearifan-kearifan agama harus diterjemahkan ke dalam sistem nilai pengelolaan sejarah, kebudayaan dan peradabannya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Kebanyakan orang tak bisa tidur, mereka hanya tertidur, karena sepanjang siang dan malam hari mereka diberati oleh dunia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Kebersihan luas makananya, kebersihan ruang dan kampung hanyalah satu hal, hal lain adalah kebersihan jiwa manusia itu sendiri, kebersihan pergaulan antarmanusia, baikpergaulan sosial, pergaulan ekonomi, pergaulan politik dan hukum (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Keceriaan dan kenyamanan hidup tidak terlalu bergantung pada hal-hal di luar manusia melainkan bergantung pada kekayaan batin di dalam diri manusia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Kematian terkadang merupakan kritik terhadap kehidupan, Tuhan mengambil nyawa seseorang tak semata dalam rangka menyayangi orang itu tapi juga sekaligus memberi peringatan kepada semua yang ditinggalkan oleh almarhum (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)