Gerbang wabal
GERBANG WABAL Part 2
“Allah yang Maha Besar yang mengetahui isi hati manusia, Allah yang Maha
Besar yang mengetahui apakah perjuangan yang telah dirintis keluarga
Pak Muhammad dan Ibunda Halimah dan perjuangan Maiyah perlu diketahui
dan dicatat ataukah tidak, kita hanya bisa mengeluh kepada Allah…. Malam
ini kita memasrahkan kepada Allah hal-hal yang apabila kita
melakukannya malah menjadi madhorot. Kita telah sampai pada zaman di
mana arah angin tidak menentu, gelombang silang sengkarut. Kita sampai
pada zaman di mana orang yang punya niat suci malah terjengkang. Zaman
di mana pokok-pokok problemanya hanya bisa diatasi oleh keadilan dan
ridho Allah. Kita tak punya pamrih perjuangan itu dicatat siapapun,
tetapi kalau Jamaah Maiyah, keluarga anda, dan saya disakiti, waw-llahi
itu tidak akan melahirkan dendam kepada yang menyakiti, tetapi Allah
yang memiliki keadilan-Nya,” tegas Cak Nun.
Kemudian jamaah diajak
untuk mengingat-ingat apa yang mereka lakukan, seberapa banyak itu semua
mendekatkan pada atau menjauhkan dari Ridho-Nya. Mereka diajak
bermuhasabah, mulai dari skala diri, keluarga, umat Islam, bangsa
Indonesia, dan umat manusia. Ditegaskan kepada jamaah, bahwa Maiyah yang
dititipkan oleh Allah kepada mereka itu ibarat benih-benih, yang
apabila ditanam di Indonesia tak akan cukup tanah Indonesia ini. Karena
Maiyah lebih besar dari negeri ini. Sebab Maiyah adalah revolusi
berpikir, revolusi pemahaman, dengan dimensi-dimensinya yang seperti
hujan deras. Revolusi tata nilai yang mampu memberikan cermin terhadap
peradaban-peradabanyang ada. “Baik maiyah itu dalam bentuk jernih di dalam diri Anda,
maupun yang dipotong-potong di media dan dimanipulasi, mulai 2016 Jamaah
Maiyah jangan pernah coba-coba melakukan kejahatan,” pesan Cak Nun.
Seraya mengingatkan bahwa yang Maiyah mohonkan kepada Allah adalah
keadilan-Nya, Cak mengatakan, “Kita tidak mengatakan hukuman-Nya, sebab
itu hak mutlak Allah.” Lalu jamaah pun didoakan agar Allah berkenan
menjadi mata yang menjadi penglihatan mereka, menjadi kesucian yang
mendiami hati mereka, dan menjadi telinga yang menjadi pendengaran
mereka.
Serempak semua jamaah melantunkan surat Al-Fatihah yang
dituntunkan Cak Nun, dan mengawali do’a Wabal dilantunkan. Musik
KiaiKanjeng pun mengiringinya dengan tekanan nada dan irama yang kuat.
Jamaah perlahan-perlahan memasuki kekhusyukan yang lebih dalam lagi.
Doa wabal mengandung moralitas yang sangat serius. Walaupun berisi
permohonan akan keadilan-Nya, jangan dikira keadilan itu hanya untuk
penganiaya, penipu daya, dan pemanipulasi (pihak di luar yang membaca
doa Wabal), melainkan juga bagi dirinya. Tidak boleh meminta keadilan
yang hanya berlaku untuk orang lain. Dia pun harus siap. Itulah
keadilan. Itulah sebabnya Cak Nun mengatakan siapapun saja. Modal jamaah
Maiyah adalah keteraniayaan, ketertimpaan oleh tipu daya, dan
keterasingan.
Selama hampir satu jam, jamaah diajak melantukan wirid
Wabal. Berbagai nada dan irama, semua melantunkan Ya Dzal Wabal Ya Dzal
Wabal. Banyak wajah menunduk khusyuk. Tak hanya yang berada di depan
panggung, tapi juga yang berada di belakang atau di sisi timur Sentono
Arum. Sebagian lain duduk di selasar pondok Padhangmbulan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar