Selasa, 02 Februari 2016

Gerbang wabal

 GERBANG WABAL Part 2

 

“Allah yang Maha Besar yang mengetahui isi hati manusia, Allah yang Maha Besar yang mengetahui apakah perjuangan yang telah dirintis keluarga Pak Muhammad dan Ibunda Halimah dan perjuangan Maiyah perlu diketahui dan dicatat ataukah tidak, kita hanya bisa mengeluh kepada Allah…. Malam ini kita memasrahkan kepada Allah hal-hal yang apabila kita melakukannya malah menjadi madhorot. Kita telah sampai pada zaman di mana arah angin tidak menentu, gelombang silang sengkarut. Kita sampai pada zaman di mana orang yang punya niat suci malah terjengkang. Zaman di mana pokok-pokok problemanya hanya bisa diatasi oleh keadilan dan ridho Allah. Kita tak punya pamrih perjuangan itu dicatat siapapun, tetapi kalau Jamaah Maiyah, keluarga anda, dan saya disakiti, waw-llahi itu tidak akan melahirkan dendam kepada yang menyakiti, tetapi Allah yang memiliki keadilan-Nya,” tegas Cak Nun.
Kemudian jamaah diajak untuk mengingat-ingat apa yang mereka lakukan, seberapa banyak itu semua mendekatkan pada atau menjauhkan dari Ridho-Nya. Mereka diajak bermuhasabah, mulai dari skala diri, keluarga, umat Islam, bangsa Indonesia, dan umat manusia. Ditegaskan kepada jamaah, bahwa Maiyah yang dititipkan oleh Allah kepada mereka itu ibarat benih-benih, yang apabila ditanam di Indonesia tak akan cukup tanah Indonesia ini. Karena Maiyah lebih besar dari negeri ini. Sebab Maiyah adalah revolusi berpikir, revolusi pemahaman, dengan dimensi-dimensinya yang seperti hujan deras. Revolusi tata nilai yang mampu memberikan cermin terhadap peradaban-peradabanyang ada. “Baik maiyah itu dalam bentuk jernih di dalam diri Anda, maupun yang dipotong-potong di media dan dimanipulasi, mulai 2016 Jamaah Maiyah jangan pernah coba-coba melakukan kejahatan,” pesan Cak Nun.
Seraya mengingatkan bahwa yang Maiyah mohonkan kepada Allah adalah keadilan-Nya, Cak mengatakan, “Kita tidak mengatakan hukuman-Nya, sebab itu hak mutlak Allah.” Lalu jamaah pun didoakan agar Allah berkenan menjadi mata yang menjadi penglihatan mereka, menjadi kesucian yang mendiami hati mereka, dan menjadi telinga yang menjadi pendengaran mereka.
Serempak semua jamaah melantunkan surat Al-Fatihah yang dituntunkan Cak Nun, dan mengawali do’a Wabal dilantunkan. Musik KiaiKanjeng pun mengiringinya dengan tekanan nada dan irama yang kuat. Jamaah perlahan-perlahan memasuki kekhusyukan yang lebih dalam lagi.
Doa wabal mengandung moralitas yang sangat serius. Walaupun berisi permohonan akan keadilan-Nya, jangan dikira keadilan itu hanya untuk penganiaya, penipu daya, dan pemanipulasi (pihak di luar yang membaca doa Wabal), melainkan juga bagi dirinya. Tidak boleh meminta keadilan yang hanya berlaku untuk orang lain. Dia pun harus siap. Itulah keadilan. Itulah sebabnya Cak Nun mengatakan siapapun saja. Modal jamaah Maiyah adalah keteraniayaan, ketertimpaan oleh tipu daya, dan keterasingan.

Selama hampir satu jam, jamaah diajak melantukan wirid Wabal. Berbagai nada dan irama, semua melantunkan Ya Dzal Wabal Ya Dzal Wabal. Banyak wajah menunduk khusyuk. Tak hanya yang berada di depan panggung, tapi juga yang berada di belakang atau di sisi timur Sentono Arum. Sebagian lain duduk di selasar pondok Padhangmbulan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar