MENGAWALI TAHUN 2016, Kenduri Cinta mengangkat tema Gerbang Wabal, sebuah istilah tema yang khusus diberikan oleh Cak Nun. Istilah-istilah terkait tema, seperti wabal, tahlukah dan qiyamah. Jika dari asal katanya wabal bisa dikatakan sebagai puncak penghancuran dari segala penghancuran. Jika musibah dan azab klasifikasinya masih bisa teridentifikasi, lain halnya dengan wabal. Dalam sebuah diskusi, Syeikh Nursamad Kamba pernah menjelaskan, hanya Allah yang tahu seperti apa penggambaran wabal. Wabal merupakan proses yang —bisa dikatakan— lebih kejam dari tahlukah. Sebagai pengingat, tahun 2013, Maiyah melakukan proses awal Tahlukah. Cak Nun, Cak Fuad, dan Syeikh Nursamad Kamba menyusun wirid Tahlukah yang kemudian pada saat itu prosesinya dilaksanakan secara kontinyu bergantian oleh penggiat di simpul-simpul Maiyah. Tahlukah adalah proses penghancuran dan kehancuran, berasal dari kata halaka.
Cak Nun switching menuju suasana yang lebih spiritual, mengajak jamaah membaca Al-Fatihah bersama, dan membabar menuju upacara pembacaan Wirid Wabal, “Dari hidung anda udara keluar masuk, yang muatannya ditentukan oleh kandungan hati, pikiran dan kedalaman uluhiyah jiwa anda. Sehingga, apapun yang ada di sekitar kita (malam ini) akan terkontaminasi secara baik oleh aura dari dalam jiwa anda. Saya minta waktu, mungkin sampai satu jam, untuk berupacara yang kita sebut sebagai Gerbang Wabal. Memohon kepada Allah, menyerahkan kepada Allah, mentawakalkan kepada Allah. Siapa saja yang berbuat kezaliman dalam arti individu, kolektif, sistemik atau struktural, yang tingkat komplikasinya berada jauh diluar ilmu dan kemampuan manusia, kita tawakalkan kepada Allah, agar supaya ada keselamatan masa depan bagi anak cucu kita mulai tahun 2016 ini. Allah akan meningkatkan pembalasannya kepada orang-orang yang zalim kepada sesama manusia.”
Cak Nun mengkondisikan posisi tubuh agar lebih fokus, meniadakan selain Allah dan Rasulullah, memfokuskan pada harapan-harapan dan proses perjalanan kehidupan yang dilalui, “Allah yang Ahad tidak menciptakan sesuatu yang tidak Ahad. Maka jangan mau diseragamkan. Dirimu unik, dirimu itu tunggal. Allah itu tunggal maka Dia menciptakan segala sesuatu tunggal, tidak ada duanya. Temukan ketunggalanmu, (temukan) apa yang membuatmu bahagia, apa yang membuatmu cemas, apa yang membuatmu sedih, menyangkut dirimu, keluargamu, masyarakatmu, bangsamu atau umat manusia di seluruh dunia. Sadari dan nikmatilah dalam dirimu. Kemudian (temukan juga) apa yang kira-kira masih berlubang, harus didandani, diatasi, dikasi solusi dan seterusnya. Anda daftari dalam kesadaran dan ingatan, selama satu jam kedepan itu semua anda lantunkan kepada Allah. Tidak perlu disebut satu persatu, cukup diwakili dengan kata: Yaa Dzal Wabal.”
Selama kurang lebih satu jam, jamaah Kenduri Cinta khusyuk melantunkan Ru’us Tahlukah, bergiliran mengiringi Fahmi, Ibrahim, Tri dan Mas Islamiyanto KiaiKanjeng secara terstruktur membaca doa Tahlukah.
Syeikh Kamba mengawali bagaimana Cak Nun menggubah Syair Shohibu Baitiy dan meminta Syeikh Kamba untuk ikut mengkoreksi syair tersebut. Syeikh Kamba —memiliki latar belakang ilmu tasawuf— menjelaskan bahwa salah satu ciri sebuah tarekat adalah lahirnya wirid-wirid tertentu yang tentu tidak sembarangan dalam proses penyusunannya, Maiyah juga merupakan salah satu tarekat. Syeikh Kamba mencontohkan bagaimana Imam Abu Hasan Zazli yang menyusun beberapa kalimat-kalimat yang kemudian dilantunkan dengan intonasi nada yang teratur, yang kemudian menjadi kesatuan yang harmonis. Hal serupa dilakukan Cak Nun di Maiyah.
“Yang saya pahami, Maiyah bukan pelembagaan institusionalisasi agama. Bukan. Tetapi yang dilakukan Maiyah adalah berbagi ilmu pengetahuan, saling menyayangi satu sama lain, saling mengasihi dalam balutan cinta segitiga; Allah-Rasulullah-manusia. Karena itu, dalam Maiyah setiap orang memiliki independensi dalam memahami ilmu. Hal itulah yang dibangun oleh Cak Nun di Maiyah,” Syeikh Kamba menuturkan.
“Jangan hanya mengenal Rasulullah melalui Iqra‘ dan wahyu-wahyu yang diturunkan Allah kepada beliau yang kemudian menjadi Alquran. Anda juga harus memahami penderitaan beliau jauh sebelum itu (sebelum menjadi Rasulullah). Kalau anda tidak memahami dan merasakan penderitaan itu, mendalami itu, maka jarak jangkauan kuda-kuda ilmu anda tidak tinggi,” Cak Nun melanjutkan dengan memberi penjelasan tentang pentingnya seorang santri mempelajari perjalanan hidup kyainya, sehingga ia tidak akan kehilangan jarak antara ilmu yang ia dapatkan dengan sosok kyai yang dijadikannya sebagai guru.
“Ini (Kenduri Cinta) pesantren bukan? Ini universitas atau bukan? Boleh nggak disini (di Kenduri Cinta) melanggar kode etik keilmuan? Boleh nggak disini anda berlaku tidak logis? Nggak boleh, kan?” Cak Nun menambahkan. Di Kenduri Cinta atau di forum-forum maiyahan lainnya tidak memungkinkan ada orang yang memiliki ambisi duniawi tertentu, berbicara diatas panggung kemudian jamaah hanya diam saja. Ketidakjujuran tidak akan berlaku di Maiyah. “Ini (Kenduri Cinta) bukan hanya pesantren. Ini bukan hanya universitas. Ini wilayah rububiyah,” tegas Cak Nun.
Rububiyah adalah wilayah kepengasuhan Allah yang didalamnya terdapat pendidikan, pengajaran, kasih sayang dan sebagainya. Sedangkan tarbiyah yang kita kenal di wilayah akademis sebenarnya bermakna terlalu sempit, tarbiyah memiliki cakupan lebih luas dari yang dipahami dunia akademik sekarang. Tarbiyah berasal dari kata robba-yurobbi-robbi, yang berafiliasi dengan kata robbun. Istilah tarbiyah mengalami penyempitan makna merupakan satu contoh dari sekian banyak hal yang sudah terjadi di dunia akademik pada umumnya. Segala sesuatu yang maknanya luas menjadi sempit kemudian diinstitusikan, sehingga terjadilah pemetaan-pemetaan yang mengkotak-kotakkan wilayah dan pada akhirnya ada pihak yang seharusnya ada di wilayah tersebut menjadi pihak yang tidak dianggap di wilayah itu karena ia tidak mengikuti aturan main yang berlaku.
Bagi dunia modern Maiyah tidak akan dianggap sebagai sebuah universitas karena tidak mengikuti aturan main sistem dunia pendidikan, meskipun yang dilakukan di Maiyah pada hakikatnya adalah proses pendidikan dan pembelajaran, hanya karena di Maiyah tidak ada sistem pendaftaran peserta didik baru, tidak ada sistem SKS, tidak ada sistem ujian, tidak ada ijazah dan lain sebagainya.
“Maiyah mengajak anda untuk jangan menyangga semua hal di Indonesia. Yang disebut dengan nasionalismemu adalah melakukan apa yang mampu kamu jangkau. Kalau yang mampu kamu jangkau adalah kamu sama anak-istrimu, ya sudah, itulah nasionalismemu, yang penting kamu menjadi manusia sebaik-baiknya dalam skala kecil nasionalisme hidupmu itu,” Cak Nun memberikan simulasi-simulasi sederhana dalam mewujudkan nasionalisme meskipun dalam skala kecil, karena yang paling penting dalam mewujudkan nasionalisme adalah menjalankan kemanusiaan dan fungsi kekhalifahan dengan sebaik-baiknya.
“Temukan skala nasionalismemu masing-masing. Kalau bisanya skala keluarga, ya keluarga. Nasionalisme tidak harus skalanya NKRI, karena kalau yang skala kecil ini beres, sudah pasti NKRI juga akan beres. Lha kalau semua ikut memikirkan NKRI, gunane opo kene mbayar pemerintah?” tanya Cak Nun.
Gerakan Maiyah yang semakin tumbuh meluas juga disoroti Cak Nun sebagai salah satu wujud nasionalisme. Nilai-nilai Maiyah yang tersebar sedemikian rupa bahkan hingga ke seluruh penjuru dunia, menjadi sebuah bibit yang kelak akan melahirkan generasi-generasi baru. Penyebaran nilai-nilai Maiyah pun hingga hari ini sangat beragam bentuknya, ada yang selalu datang setiap maiyahan rutin bulanan, ada yang datang kemudian berdiam di pojokan, atau bertanya kepada teman dan tetangganya yang datang ke maiyahan. Nilai-nilai Maiyah yang sederhana banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan masih banyak lagi jenis penyebaran nilai-nilai Maiyah yang terjadi saat ini. [Baca selengkapnya — http://kenduri.in/1KiOD0j]
Allah
yang Ahad tidak menciptakan sesuatu yang tidak Ahad. Maka jangan mau
diseragamkan. Dirimu unik, dirimu itu tunggal. Allah itu tunggal maka
Dia…
kenduricinta.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar